Caption :
Dari “Tukang Urut” ke Penata Kurikulum Doktoral: Kisah Humanis Dr. Miswari Warnai Workshop IAIN Langsa
INFOLANGSA.COM – LANGSA
Suasana serius dalam _Workshop Visi Keilmuan dan Kurikulum Program Studi Islam Pascasarjana IAIN Langsa_ mendadak cair, Kamis (14/5/2026). Di tengah diskusi akademik tentang roadmap riset dan arah pengembangan Program S3, *Dr. Miswari*, Ketua Program Doktor IAIN Langsa, berbagi kisah masa kecil yang tak disangka-sangka.
Di hadapan peserta, ia bercerita bahwa dirinya lahir dalam kondisi sungsang. Saat itu, keluarganya bercanda bahwa kelak ia cocok menjadi tukang urut karena “bakat tangan” yang terbawa sejak lahir.
“Dulu ibu saya bilang, karena lahir sungsang mungkin nanti cocok jadi tukang urut,” kenangnya sambil tersenyum.
Candaan itu memantik tawa ringan. Namun di balik gelak tawa, tersimpan perjalanan hidup yang penuh makna.
Alih-alih meniti jalan sebagai tukang urut tradisional, langkah Miswari justru membawanya ke dunia akademik. Tahun demi tahun dilaluinya dengan belajar, menulis, mengajar, hingga kini dipercaya memimpin Program Doktor Studi Islam di IAIN Langsa.
Gurauan masa kecil itu pun kembali muncul, namun dalam versi yang berbeda.
“Sekarang mungkin bukan mengurut badan, tapi mengurut kurikulum dan menyusun arah keilmuan,” celetuk seorang peserta, yang kembali disambut tawa hadirin.
Memang, dalam workshop itu Miswari terlihat sibuk “merapikan” banyak hal. Bersama tim penyusun, ia membahas capaian pembelajaran, struktur kurikulum, hingga arah pengembangan Program S3 Studi Islam yang tengah dipersiapkan Pascasarjana IAIN Langsa.
Ada ironi yang indah dalam kisah tersebut. Seorang anak kampung yang dulu diprediksi akan bekerja dengan kekuatan tangan, kini bekerja dengan kekuatan pikiran dan gagasan.
Namun satu hal yang tetap sama: semangat membantu orang lain menjadi lebih baik. Jika tukang urut meluruskan urat yang tegang, maka dunia akademik yang kini dijalani Miswari adalah upaya meluruskan arah keilmuan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Di ruang workshop itu, diskusi berjalan serius. Paradigma ilmu, roadmap riset, dan kurikulum doktoral dibahas mendalam. Namun kisah kecil dari Miswari mengingatkan bahwa pendidikan tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kehidupan sederhana, doa orang tua, keterbatasan, dan cerita kampung yang dulu terdengar biasa saja.
Kini, di Aula Pascasarjana IAIN Langsa, Miswari tak lagi dikenal sebagai anak sungsang yang dipersiapkan menjadi tukang urut. Ia hadir sebagai akademisi yang turut menata masa depan pendidikan Islam di Aceh.
Mungkin benar kata ibunya dulu: tangannya memang membawa manfaat bagi banyak orang. Hanya saja, yang “diurut” hari ini bukan lagi tubuh manusia, melainkan arah ilmu pengetahuan.
InfoLangsa.Com _Redaksi_

















