InfoLangsa.Com – Semarang
20 September 2026
Sebuah pernyataan terbuka yang tajam, tegas, dan menyentuh hati nurani seluruh pemimpin bangsa disampaikan oleh Wisnu alias Roger, wartawan vokal dan kritis yang senantiasa berdiri di garis terdepan sebagai kontrol sosial demi kepentingan rakyat banyak.
Niat membagikan bantuan beras itu sangat mulia. Namun satu pertanyaan paling mendasar yang terus ditanyakan jutaan keluarga di seluruh pelosok negeri: apakah beras yang disalurkan saat ini sudah layak dikonsumsi manusia? Apakah memenuhi standar kesehatan yang pantas untuk kita semua, termasuk anak-anak kita yang masih dalam masa pertumbuhan?
“Saya mengajak Bapak Presiden Prabowo Subianto, Bapak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Bapak Ketua MPR RI, Bapak Ketua DPR RI, seluruh para Menteri, Gubernur di tingkat Provinsi, Bupati dan Wali Kota di tingkat Kabupaten/Kota, Camat di tingkat Kecamatan, serta Lurah di tingkat Kelurahan/Desa dan semua yang memegang amanah negara dari puncak hingga ke paling bawah: Lakukan satu hal yang paling sederhana namun paling jujur. Sebelum satu butir pun beras itu sampai ke tangan rakyat MASAKLAH DULU, MAKANLAH BERSAMA KELUARGA ANDA SENDIRI. Rasakan sendiri bagaimana rasanya menelan nasi yang disiapkan dari beras bantuan pangan hari ini.”
“Coba nikmati bersama istri, suami, anak-anak, dan orang tua Anda di rumah. Cium aromanya saat dimasak. Lihat warnanya di atas piring. Rasakan di lidah Anda. Jika Anda dan keluarga bisa memakannya dengan tenang, dengan hati lapang, tanpa ragu sedikit pun barulah boleh dibagikan. Tapi jika Anda sendiri mengerutkan kening, membuang sebagian, atau bahkan menolak memakannya BERANI SIAPA ANDA MEMBERIKANNYA KEPADA RAKYAT? Apakah perut rakyat lebih kuat dari perut Anda? Apakah kesehatan anak rakyat lebih murah dari kesehatan anak Anda?” tegas Wisnu alias Roger dengan suara bergetar.
“Jika beras itu berwarna kusam, berbau tidak sedap, jangan pernah berani memberikannya kepada rakyat. Apa yang tidak sanggup Anda telan, jangan pernah paksa rakyat untuk menelannya! Itu bukan bantuan yang terhormat. Itu bukan bukti kepedulian negara. Rakyat tidak meminta beras impor terbaik. Rakyat hanya meminta satu hal yang sangat wajar: layak dimakan, aman dikonsumsi, dan tidak membahayakan kesehatan keluarga kita.”
“Budaya kuno yang memberi rakyat apa yang para pemimpin sendiri tolak HARUS DIBUMI HANGUSKAN SEKARANG JUGA! Memberikan beras tanpa pernah mencoba memakannya sendiri setiap hari adalah budaya lama yang memalukan bangsa ini. Jangan pernah berbicara lantang soal kemakmuran rakyat seluruhnya, jika nyatanya di lapangan rakyat justru diberi apa yang tidak layak dikonsumsi manusia. Kata-kata manis tak berarti jika kenyataan pahit terus dirasakan rakyat paling bawah,” serunya tanpa ragu.
“Standar kualitas tidak boleh ada dua. Jika standar yang lebih tinggi diberlakukan untuk istana, kediaman wakil presiden, ketua MPR, ketua DPR, rumah dinas gubernur, bupati, wali kota, kantor camat, dan kantor lurah maka standar yang sama, bukan yang lebih rendah, harus sampai ke rumah rakyat paling bawah di desa terpencil. Negara ini milik kita semua, bukan milik sebagian orang saja.”
“Kepada seluruh jajaran pemimpin dari pusat hingga desa: Anda semua digaji dari kekayaan bangsa dan negara ini, serta dari uang pajak seluruh rakyat Indonesia bukan dari kantong pribadi siapa pun. Maka jalankan tugas dengan jujur, transparan, dan penuh tanggung jawab sebesar-besarnya. Camat dan Lurah Andalah garda terdepan. Andalah yang melihat langsung wajah rakyat. Jangan tutup mata. Jangan diam saja. Jika beras yang datang ke wilayah Anda tidak layak TOLAK. Laporkan. Karena diam berarti Anda ikut serta memberi yang buruk kepada tetangga Anda sendiri.”
“Turunlah ke lapangan. Buka karungnya langsung. Cek baunya, lihat warnanya, pastikan layak konsumsi sebelum disalurkan. Jangan hanya menandatangani berita acara lalu berpura-pura tidak tahu. Rakyat tidak butuh tanda tangan rakyat butuh beras yang bisa dimakan tanpa takut sakit perut.”
“Jadikan program bantuan ini bukti nyata bahwa negara hadir, negara peduli, dan negara melindungi warganya tanpa pandang bulu. Jika ada oknum yang bermain di tengah jalan memotong, mengganti kualitas, atau menyalurkan tidak pada yang berhak itu adalah pengkhianat terhadap rakyat. Tindak tegas sesuai undang-undang, tanpa pandang siapa dan tanpa kompromi. Di atas piring makan rakyat, tidak boleh ada permainan politik maupun keuntungan pribadi.”
“Satu aturan mutlak yang tak boleh ditawar: MAKAN DULU, BARU BAGIKAN. Jika tidak sanggup Anda telan JANGAN PERNAH PAKSA RAKYAT. Itulah keadilan yang paling dasar. Itulah martabat manusia yang paling pertama dijaga.”
Wisnu alias Roger, Wartawan Vokal & Kritis, Kontrol Sosial untuk Keadilan Rakyat
((((Robby.R))))


















