InfoLangsa.Com – Surabaya
Perjalanan menuju sebuah kongres nasional bukan sekadar perpindahan dari satu wilayah ke wilayah lain, melainkan juga cerminan pengabdian, solidaritas, dan semangat perjuangan organisasi. Nilai-nilai tersebut tergambar dalam perjalanan 35 delegasi Pengurus Wilayah Syarikat Islam (PWSI) Aceh yang berangkat melalui jalur darat dari Markaz Syarikat Islam Aceh di Banda Aceh pada 13 Oktober 2026, dengan tujuan menghadiri Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, Jawa Timur, pada 17–20 Oktober 2026.
Pelepasan rombongan dilakukan langsung oleh Ketua Dewan Wilayah Syarikat Islam Aceh, Prof. Muhammad Siddiq Armia, M.H., Ph.D., didampingi Ketua Pengurus Wilayah Syarikat Islam Aceh, Zulmahdi Hasan, S.Ag., M.H. Pelepasan tersebut menjadi momentum penting yang menandai kesiapan delegasi Aceh untuk mengambil bagian dalam agenda nasional organisasi.
Keberangkatan ini menjadi bagian dari ikhtiar organisasi untuk memastikan kehadiran dan partisipasi aktif kader Aceh dalam agenda nasional Syarikat Islam. Dengan menempuh perjalanan lintas provinsi dan pulau, para delegasi membawa lebih dari sekadar mandat organisasi. Mereka juga membawa aspirasi daerah, semangat persaudaraan, serta harapan untuk ikut menentukan arah perjuangan Syarikat Islam ke depan.
Menempuh Ribuan Kilometer, Menguji Ketahanan dan Kebersamaan
Perjalanan darat dari Banda Aceh menuju Surabaya merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan fisik, pengaturan waktu, koordinasi, dan kesabaran. Dengan jarak yang diperkirakan mencapai 3.200–3.500 kilometer, perjalanan ini melewati sejumlah wilayah di Sumatra dan Jawa, termasuk penyeberangan Selat Sunda.
Keberangkatan pada 13 Oktober memberikan waktu bagi rombongan untuk menempuh perjalanan secara bertahap sebelum mengikuti rangkaian kongres yang berlangsung pada 17–20 Oktober 2026. Waktu perjalanan tersebut bukan sekadar jeda menuju agenda resmi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang mempertemukan puluhan kader dalam satu tujuan.
Berbeda dengan perjalanan udara yang relatif singkat, jalur darat menghadirkan dinamika tersendiri. Kelelahan, waktu tempuh yang panjang, kondisi jalan, serta kebutuhan beristirahat menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Dalam situasi seperti ini, solidaritas tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian, kedisiplinan, dan sikap saling membantu.
Perjuangan Dimulai Sebelum Kongres Dibuka
Sering kali perjuangan organisasi dipahami sebatas pidato, persidangan, dan pengambilan keputusan dalam forum resmi. Padahal, perjuangan juga hadir dalam proses panjang untuk mencapai forum tersebut.
Keputusan 35 delegasi PWSI Aceh menempuh jalur darat menunjukkan bahwa pengabdian membutuhkan kesediaan untuk mengorbankan waktu, tenaga, dan kenyamanan. Kehadiran mereka di Surabaya merupakan bentuk tanggung jawab terhadap amanah organisasi sekaligus komitmen untuk menjaga kesinambungan perjuangan Syarikat Islam.
Dalam perspektif organisasi, perjalanan ini menjadi ruang pembelajaran tentang arti kesabaran, kepemimpinan, dan tanggung jawab kolektif. Perbedaan karakter dan latar belakang para peserta dipertemukan oleh tujuan yang sama, yakni menghadiri kongres dan berkontribusi bagi kemajuan organisasi.
Dengan demikian, perjalanan menuju Surabaya bukan hanya perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin untuk memperkuat loyalitas, membangun kepercayaan, dan meneguhkan kesadaran bahwa perjuangan besar membutuhkan kebersamaan.
Dari Aceh Membawa Aspirasi ke Forum Nasional
Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam yang berlangsung pada 17–20 Oktober 2026 menjadi momentum strategis bagi konsolidasi organisasi, evaluasi perjalanan perjuangan, dan perumusan arah kebijakan ke depan.
Bagi delegasi Aceh, keikutsertaan dalam forum ini memiliki arti penting. Aceh bukan hanya bagian dari struktur organisasi nasional, melainkan juga wilayah yang memiliki tradisi keislaman, sejarah perjuangan, dan pengalaman sosial yang dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi perkembangan Syarikat Islam.
Karena itu, kehadiran delegasi diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan undangan atau formalitas organisasi. Partisipasi tersebut perlu diwujudkan melalui kontribusi pemikiran, penyampaian aspirasi daerah, serta keterlibatan aktif dalam agenda kongres sesuai dengan mandat dan ketentuan organisasi.
Semangat inilah yang menjadikan perjalanan dari Markaz Syarikat Islam Aceh menuju Surabaya memiliki makna lebih luas: menghubungkan perjuangan di daerah dengan cita-cita organisasi di tingkat nasional.
Menjaga Warisan, Menjawab Tantangan Zaman
Syarikat Islam memiliki akar sejarah penting dalam perkembangan gerakan Islam, pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan, dan kebangsaan di Indonesia. Warisan tersebut merupakan modal historis sekaligus tanggung jawab bagi generasi kader saat ini.
Tantangan zaman menuntut organisasi untuk terus memperkuat kaderisasi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, membangun kemandirian ekonomi, serta memperluas kontribusi sosial. Nilai perjuangan tidak cukup diwariskan melalui cerita sejarah, tetapi harus dihidupkan dalam program dan tindakan nyata.
Dalam konteks tersebut, kongres menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, gagasan, dan harapan dari berbagai wilayah. Delegasi Aceh diharapkan dapat mengambil bagian dalam proses tersebut sekaligus membawa pulang hasil kongres sebagai bekal untuk memperkuat gerakan Syarikat Islam di daerah.
Perjalanan yang Harus Berbuah Pengabdian
Perjalanan panjang dari Banda Aceh menuju Surabaya pada akhirnya bukanlah tujuan akhir. Kongres hanyalah salah satu tahapan dalam perjalanan organisasi yang lebih besar. Ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada kehadiran delegasi, tetapi juga pada kemampuan menerjemahkan hasil kongres menjadi kerja nyata setelah kembali ke daerah.
Kebersamaan selama perjalanan hendaknya menjadi modal untuk memperkuat konsolidasi, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan efektivitas kerja organisasi. Sementara itu, gagasan yang diperoleh dalam kongres perlu dikembangkan menjadi program yang relevan dengan kebutuhan umat dan masyarakat.
Dari Markaz Syarikat Islam Aceh pada 13 Oktober hingga mengikuti kongres di Surabaya pada 17–20 Oktober 2026, perjalanan 35 delegasi ini menyimpan pesan bahwa perjuangan membutuhkan keteguhan, pengorbanan, dan komitmen yang berkelanjutan.
**Dari Aceh menuju Surabaya, ribuan kilometer ditempuh bukan semata-mata untuk menghadiri kongres, melainkan untuk merawat persaudaraan, membawa aspirasi daerah, dan meneguhkan kembali cita-cita perjuangan Syarikat Islam. Sebab, perjuangan sejat tidak berhenti ketika forum ditutup, tetapi dimulai kembali melalui pengabdian nyata kepada umat, bangsa, dan organisasi.(Zainal Jimbron)


















