InfoLangsa.Com – Banda Aceh
Ada mimpi yang lahir dari keterbatasan. Ada perjuangan yang ditempa oleh kehilangan. Dan ada harapan yang akhirnya menemukan jalannya.
Empat anak yatim binaan Koramil 06/Indrapuri, Kodim 0101/KBA, membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Mereka adalah Ahmad Rasya, Maulana, Akhbar Rizki Guspan, dan Wervan Ari Yoga. Keempatnya berhasil melewati rangkaian seleksi Calon Tamtama Prajurit Karier (Cata PK) Gelombang III Tahun Anggaran 2026 dan dinyatakan lulus berdasarkan Pantukhir pada 21 September 2026.
Selanjutnya, keempat calon prajurit tersebut akan mengikuti pembukaan pendidikan pada 29 September 2026 di Rindam IM Mata Ie, Banda Aceh.
Perjalanan mereka tentu tidak mudah. Ahmad Rasya, kelahiran Aceh Besar, 9 Agustus 2007, merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Ayahnya, almarhum Tarmizi, seorang petani, meninggal dunia pada tahun 2007 karena sakit. Rasya kemudian tumbuh bersama ibunya, Marlina. Setelah menyelesaikan pendidikan di MIN 15 Aceh Besar, MTsN 6 Aceh Besar dan SMAN 1 Montasik, Rasya mencoba mengikuti seleksi Cata untuk pertama kalinya—dan berhasil.
Kemudian Maulana, kelahiran Leubok Buni, Aceh Besar, 18 Juni 2004. Anak ketiga dari lima bersaudara ini kehilangan ayahnya, almarhum Sabirin, seorang petani, pada tahun 2026 karena sakit. Maulana merupakan lulusan MIN Samahani, MTsN Samahani dan SMKN 1 Al Mubarkeya Aceh Besar. Namun, keberhasilan Maulana tidak datang dalam sekali perjuangan. Enam kali mengikuti seleksi Cata. Enam kali pula ia harus menghadapi proses yang tidak mudah. Hingga akhirnya, kesabaran dan kegigihannya membuahkan hasil.
Ada pula Akhbar Rizki Guspan, kelahiran Alue Sentang, 12 Agustus 2008. Anak keempat dari empat bersaudara ini kehilangan kedua orang tuanya. Ayahnya, almarhum Jumadi Martono, seorang petani, meninggal dunia pada 2022, sementara ibunya, almarhumah Aidana, meninggal dunia pada 2025 karena sakit. Lulusan SDN Alue Sentang, MTsS Dayah Nurul Huda Kota Langsa dan MAS Dayah Nurul Huda Kota Langsa ini mengikuti seleksi Cata untuk pertama kalinya. Kerja kerasnya akhirnya mengantarkan langkahnya menuju pendidikan calon prajurit TNI AD.
Sementara itu, Wervan Ari Yoga, kelahiran Lawe Dua, 2 Juni 2003, merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya, almarhum Kasim, seorang petani, meninggal dunia pada 2019 karena sakit. Wervan kemudian tumbuh bersama ibunya, Samdiah. Lulusan SDN Pulolatong, MTsS Darularafah Raya dan MAS Darularafah Raya tahun 2021 ini menjadi salah satu sosok yang paling menggambarkan arti pantang menyerah. Enam kali mengikuti seleksi Cata. Enam kali pula ia mencoba. Tidak menyerah. Tidak berhenti belajar. Tidak berhenti berlatih. Dan kini, perjuangan panjang itu membuahkan hasil.
Keempat anak yatim tersebut mendapatkan pembinaan dan pendampingan dari Koramil 06/Indrapuri Kodim 0101/KBA, termasuk kesempatan untuk berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi. Danramil 06/Indrapuri, Kapten Inf Rais, S.A.P., M.P.A. menegaskan bahwa pihaknya berupaya membantu mereka dengan tulus. Bagi mereka, Koramil bukan sekadar tempat berlatih. Di sana, mereka mendapatkan dorongan untuk percaya bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan.
Empat perjalanan berbeda.Empat kisah kehilangan.Namun satu semangat yang sama: mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Kini, langkah mereka semakin dekat menuju cita-cita. Dari latihan sederhana di bawah binaan Koramil, mereka akan melangkah menuju gerbang pendidikan prajurit. Bukan karena perjalanan mereka mudah. Tetapi karena mereka memilih untuk tidak menyerah.
Ahmad Rasya. Maulana. Akhbar Rizki Guspan. Wervan Ari Yoga.
Empat anak yatim.
Empat calon prajurit.
Dan empat kisah tentang semangat, kesabaran, serta perjuangan untuk meraih masa depan.
Redaksi


















