Oleh: Muhammad Rizky/Penulis
Opini
Mengapa upaya yang tampak logis belajar dari soal ujian justru berujung pada kesia-siaan? Jawabannya terletak pada jebakan drilling tanpa kedalaman konsep.
1. Kegagalan Membangun Pondasi Kognitif
Program drilling yang mengabaikan materi dan konsep kurikulum telah gagal dalam membangun pemahaman fundamental siswa. Pendidikan modern, khususnya yang diuji melalui UTBK dan seleksi kedinasan, tidak lagi mengandalkan hafalan atau pengenalan pola soal belaka.
Bukti Pakar dan Penelitian:
• Taksonomi Bloom (Revisi): Pakar pendidikan menekankan bahwa proses belajar tertinggi adalah menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta (creating). Drilling soal hanya menyentuh level kognitif terendah, yaitu mengingat (remembering) dan sedikit menerapkan (applying) pada pola soal yang sama. Soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) pada UTBK dirancang untuk menguji kemampuan siswa pada level analisis dan evaluasi, yang hanya bisa dicapai melalui pemahaman konsep yang mendalam.
• Penelitian Psikologi Kognitif: Konsep transfer belajar (transfer of learning) menyatakan bahwa siswa hanya dapat menggunakan pengetahuannya di situasi baru (seperti menghadapi soal yang dimodifikasi) jika mereka memahami struktur konsep dasarnya. Tanpa konsep, siswa hanya menghafal prosedur penyelesaian soal, yang akan runtuh ketika format soal diubah sedikit saja.
2. Perbedaan Filosofi Ujian Nasional (UN) dan UTBK/Sekolah Kedinasan
Banyak sekolah mungkin secara tidak sadar masih menggunakan pola pikir lama yang terbiasa dengan Ujian Nasional (UN), di mana drilling soal efektif karena sifat soal yang cenderung repetitif dan berbasis pada konten kurikulum secara harfiah.
Namun, UTBK dan ujian Sekolah Kedinasan (seperti SKD dengan Tes Intelegensi Umum) berorientasi pada:
• Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Literasi/Numerasi: Fokusnya bergeser ke kemampuan bernalar, literasi membaca, dan penalaran matematika (numerasi) dalam konteks kehidupan nyata, bukan sekadar penguasaan rumus.
• Kecepatan dan Ketepatan Analisis: Soal-soal ini menuntut siswa untuk mencerna informasi yang kompleks dan menyelesaikannya dalam batas waktu yang ketat. Ini membutuhkan fleksibilitas berpikir, bukan memori terhadap pola.
Bahaya Surface Learning (Belajar Permukaan)
Ketika materi kurikulum diabaikan, siswa cenderung menggunakan strategi Belajar Permukaan (Surface Learning).
Bukti Penelitian:
Menurut Marton dan Säljö (1976), ada dua pendekatan belajar utama:
1. Pendekatan Permukaan (Surface Approach): Bertujuan hanya untuk menghafal fakta, prosedur, atau soal spesifik untuk lulus ujian. Motivasi umumnya adalah menghindari kegagalan.
2. Pendekatan Mendalam (Deep Approach): Bertujuan untuk memahami konsep, mencari keterkaitan, dan mengkritisi informasi. Motivasi adalah minat dan keinginan untuk memahami dunia.
Program drilling soal sejak dini tanpa penekanan kurikulum secara langsung mendorong siswa pada Pendekatan Permukaan. Mereka hanya peduli dengan “bagaimana cara cepat menjawab soal ini,” bukan “mengapa rumus/konsep ini bekerja.” Ketika mereka menghadapi soal yang belum pernah dilihat, mereka tidak memiliki kerangka konseptual untuk menyelesaikannya.
Untuk mencapai hasil UTBK dan sekolah kedinasan yang memuaskan, sekolah wajib mengubah fokusnya dari kuantitas latihan soal menjadi kualitas pengajaran konsep yang mendalam dari kurikulum.
• Integrasi HOTS dalam Materi Kurikulum: Setiap bab harus diajarkan hingga mencapai level analisis dan evaluasi, menggunakan kurikulum sebagai peta utama.
• Drilling sebagai Pelengkap, Bukan Inti: Latihan soal UTBK harus digunakan sebagai alat diagnostik untuk mengukur sejauh mana konsep yang telah dipelajari dapat diterapkan, bukan sebagai pengganti proses belajar konsep itu sendiri.
Dengan mengembalikan Kurikulum sebagai inti dan Konsep sebagai pondasi, kita akan membangun siswa yang tidak hanya mampu menjawab soal, tetapi juga mampu bernalar dan beradaptasi kunci utama keberhasilan di UTBK dan seleksi kompetitif lainnya.
Disiarkan Oleh InfoLangsa.Com




















