InfoLangsa.Com – Langsa
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa terus memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Alternatif sebagai salah satu strategi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Rapat Kerja dalam rangka Sinergi Program Pemberdayaan Alternatif dengan Stakeholder, diikuti 20 peserta yang berasal dari berbagai komponen dan unsur terkait, yang dilaksanakan di Goall Coffee Langsa, Kamis (24/9/2026).
Kepala BNN Kota Langsa, Hasnanda Putra, ST., MM., MT, yang diwakili Plh. Kasubbag Umum BNN Kota Langsa, Muhammad Akbar Tirtana, SE, secara resmi membuka kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Muhammad Akbar menyampaikan bahwa pemberdayaan alternatif tidak semata-mata berbicara mengenai pemberian keterampilan, tetapi bagaimana masyarakat di kawasan rawan narkoba memiliki kesempatan untuk membangun kemandirian ekonomi dan meningkatkan daya saing.
Menurutnya, keberhasilan program pemberdayaan alternatif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, terutama dengan dunia usaha, perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga masyarakat, serta stakeholder lainnya.
“Pemberdayaan alternatif harus mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat. Karena itu, sinergi dengan dunia usaha menjadi penting agar keterampilan yang diberikan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Katim Dayamas BNN Kota Langsa, Henny Puspa, SKM, dalam laporan kegiatan menyampaikan bahwa rapat kerja ini menjadi forum untuk membangun kesamaan persepsi sekaligus merumuskan bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan dalam mendukung program pemberdayaan alternatif.
Kegiatan menghadirkan dua narasumber dari unsur akademisi dan unsur pemerintahan di bidang perkoperasian dan ketenagakerjaan.
Narasumber pertama di isi oleh Kepala UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas samudera, Dr. Ir. Banta Cut, ST., MT, menyampaikan materi bertema “Sinergi Dunia Usaha Pemberdayaan Alternatif: Mewujudkan Kawasan Rawan Narkoba Menjadi Kawasan Mandiri dan Berdaya Saing.”
Dalam pemaparannya, Banta Cut menekankan pentingnya membangun ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan potensi masyarakat dengan kebutuhan pasar dan dunia usaha.
Masyarakat di kawasan rawan narkoba perlu diberikan ruang untuk mengembangkan potensi lokal sehingga memiliki sumber penghasilan yang produktif dan berkelanjutan, tambahnya.
Menurutnya, pemberdayaan masyarakat akan lebih efektif apabila didukung pemetaan potensi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan, akses permodalan, pemasaran, serta kemitraan dengan dunia usaha.
Narasumber kedua di isi oleh Pengawas Koperasi Ahli Muda dari Dinas DPMPTSP kota Langsa, Faisal Rozi, SE., MH, membawakan materi bertema “CSR Berkelanjutan: Peran Strategis Dunia Usaha dalam Pencegahan Narkotika melalui Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat.”
Faisal menjelaskan bahwa program Corporate Social Responsibility (CSR) dapat diarahkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah yang membutuhkan penguatan ketahanan sosial dan ekonomi.
“CSR tidak hanya dipandang sebagai bentuk bantuan, tetapi dapat menjadi instrumen kolaborasi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, membuka peluang usaha, dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga,” jelasnya.
Pada kesempatan itu juga, Katim Humas BNN Kota Langsa memandang keterlibatan dunia usaha dalam P4GN memiliki posisi strategis. Dukungan dunia usaha melalui CSR, kemitraan usaha, pelatihan/ Life Skill untuk masyarakat, pemasaran produk, hingga pengembangan kewirausahaan dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih mandiri.
Melalui rapat kerja ini, BNN Kota Langsa berharap terbangun komitmen bersama antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, dan stakeholder lainnya untuk menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu kekuatan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Pemberdayaan bukan sekadar memberikan keterampilan, tetapi menciptakan kemandirian. Ketika masyarakat memiliki keterampilan, peluang usaha, pendapatan dan masa depan yang lebih baik, maka ketahanan masyarakat terhadap ancaman narkotika juga semakin kuat, tutupnya. ( JP ).
Redaksi InfoLangsa.Com_


















