InfoLangsa.Com, Padang
Komitmen Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat dalam membangun pelayanan kepolisian yang semakin humanis kembali diwujudkan melalui kegiatan Ngobras (Ngopi Bareng Polantas) yang dilaksanakan oleh Satuan Patroli dan Pengatur Jalan Raya (Sat PJR) Sumbar 4.
Kegiatan tersebut merupakan implementasi langsung dari arahan Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol. H. M. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H., yang menekankan pentingnya kehadiran personel Polantas di tengah masyarakat bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai sahabat, pendengar, pemberi edukasi, sekaligus bagian dari masyarakat yang bersama-sama menjaga keselamatan di jalan raya.
Melalui Ngobras, komunikasi antara polisi dan masyarakat dibangun dalam suasana yang lebih santai, terbuka, dan penuh keakraban. Polantas tidak hanya hadir ketika terjadi pelanggaran maupun persoalan lalu lintas, tetapi juga berupaya hadir dalam ruang-ruang interaksi masyarakat untuk mengetahui secara langsung kondisi, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi pengguna jalan.
Kegiatan yang berlangsung di sejumlah titik peristirahatan dan warung kopi di sepanjang jalur patroli tersebut menjadi ruang dialog terbuka antara personel kepolisian dengan masyarakat.
Para pengendara, sopir angkutan, pelaku usaha, hingga warga sekitar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai aspirasi, keluhan, saran, maupun pengalaman mereka berkaitan dengan kondisi lalu lintas dan pelayanan kepolisian di lapangan.
Suasana santai yang menjadi ciri khas Ngobras membuat komunikasi antara petugas dan masyarakat berlangsung lebih cair. Masyarakat dapat menyampaikan berbagai hal yang mereka temui di jalan tanpa harus melalui suasana komunikasi formal.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi salah satu upaya membangun kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian, khususnya jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Sumbar.
Polantas Tidak Hanya Mengatur Lalu Lintas
Salah seorang personel Sat PJR Sumbar 4 mengatakan, kegiatan Ngobras merupakan bentuk nyata pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan personel Polantas di lapangan tidak semata-mata berkaitan dengan tugas mengatur dan menjaga kelancaran arus kendaraan maupun melakukan penindakan terhadap pelanggaran.
Polantas juga perlu memahami apa yang dirasakan masyarakat ketika berada di jalan raya.
“Kami tidak hanya berdiri di tengah jalan mengatur arus kendaraan. Kami ingin hadir sebagai sahabat yang mendengar apa yang dirasakan masyarakat. Lalu lintas yang aman dan tertib tercipta bukan hanya karena aturan, melainkan karena kita saling memahami, saling menghormati, dan saling peduli,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, komunikasi yang baik antara petugas dengan masyarakat dapat melahirkan pemahaman yang lebih baik mengenai berbagai persoalan lalu lintas.
Menurutnya, ketika masyarakat diberikan ruang untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami secara langsung, petugas juga akan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai persoalan di lapangan.
“Setiap masukan yang disampaikan masyarakat menjadi bagian penting dalam evaluasi pelayanan. Apa yang dirasakan masyarakat harus didengar karena pelayanan lalu lintas pada akhirnya memang ditujukan untuk memberikan rasa aman, nyaman, tertib, dan keselamatan kepada seluruh pengguna jalan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan dialogis juga menjadi sarana edukasi. Masyarakat tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mematuhi aturan lalu lintas dan menjaga keselamatan bersama.
Arahan Dirlantas: Hadir untuk Mendengar
Sementara itu, Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol. H. M. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa transformasi pelayanan kepolisian harus dimulai dari kedekatan dengan masyarakat.
Menurutnya, Polantas harus mampu membangun komunikasi yang terbuka sehingga masyarakat tidak melihat polisi hanya dalam konteks penindakan.
«“Polantas harus hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan penindakan, tetapi juga hadir untuk mendengar, memberikan edukasi, membangun komunikasi, dan mencarikan solusi bersama. Kepercayaan masyarakat adalah modal utama dalam menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas,” tegasnya.»
Reza menilai, keberadaan program Ngobras memiliki arti penting karena membuka ruang komunikasi secara langsung antara personel dengan masyarakat.
Melalui komunikasi tersebut, masyarakat dapat menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temui, sementara personel Polantas dapat memberikan edukasi serta penjelasan mengenai aturan dan keselamatan berlalu lintas.
“Ketika komunikasi dibangun dengan baik, masyarakat akan lebih mudah memahami tugas kepolisian. Sebaliknya, personel juga dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan dan harapan masyarakat di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendekatan humanis tidak berarti menghilangkan ketegasan dalam penegakan hukum.
Pendekatan persuasif tetap berjalan beriringan dengan penegakan hukum terhadap pelanggaran yang berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
«“Kami ingin budaya tertib berlalu lintas tumbuh dari kesadaran masyarakat, bukan semata-mata karena takut terhadap sanksi. Keselamatan adalah kebutuhan bersama yang harus dijaga oleh seluruh pengguna jalan,” tambah Kombes Pol. Reza Chairul Akbar Sidiq.»
Edukasi Keselamatan Jadi Pesan Utama
Dalam kegiatan Ngobras tersebut, personel Sat PJR Sumbar 4 juga menyampaikan sejumlah pesan penting mengenai keselamatan berkendara kepada masyarakat.
Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran pengguna jalan agar lebih bertanggung jawab ketika berada di jalan raya.
Lima pesan utama keselamatan berkendara yang disampaikan personel Polantas meliputi:
1. Menggunakan helm berstandar SNI dan memasangnya dengan benar.
2. Mengenakan sabuk pengaman baik bagi pengemudi maupun penumpang.
3. Tidak menggunakan telepon genggam saat mengemudi.
4. Mematuhi seluruh rambu lalu lintas serta batas kecepatan yang berlaku.
5. Mengutamakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya dengan berkendara secara tenang dan bertanggung jawab.
Pesan tersebut disampaikan secara langsung dalam suasana komunikasi yang santai sehingga edukasi keselamatan dapat diterima masyarakat dengan lebih mudah.
Bagi jajaran Ditlantas Polda Sumbar, keselamatan berlalu lintas bukan hanya persoalan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab setiap individu untuk menjaga keselamatan dirinya dan orang lain.
Warga Apresiasi Pendekatan Humanis
Sejumlah warga yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan humanis yang dilakukan jajaran Ditlantas Polda Sumbar.
Mereka menilai, kegiatan seperti Ngobras memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memperoleh edukasi langsung dari personel Polantas.
Salah seorang pengendara mengungkapkan bahwa komunikasi santai bersama polisi membuat masyarakat merasa lebih dekat dan tidak sungkan untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami.
«“Kami merasa lebih dekat dengan polisi. Bisa berdiskusi langsung tanpa rasa sungkan, menyampaikan kondisi di lapangan, sekaligus mendapatkan edukasi mengenai keselamatan berkendara. Kegiatan seperti ini sangat baik dan semoga terus dilaksanakan,” ungkapnya.»
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa pola komunikasi yang lebih terbuka dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat hubungan antara kepolisian dengan masyarakat.
Kehadiran personel di tengah masyarakat tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi kedua pihak untuk saling memahami.
Membangun Kepercayaan dari Jalan Raya
Ngobras menjadi salah satu bentuk pendekatan yang memperlihatkan bahwa tugas Polantas tidak hanya berkutat pada pengaturan arus kendaraan, pengamanan jalan, maupun penegakan hukum.
Di balik tugas tersebut terdapat kebutuhan untuk membangun komunikasi, memberikan edukasi, mendengarkan masyarakat, dan menciptakan pemahaman bersama mengenai pentingnya keselamatan berlalu lintas.
Bagi Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat, hubungan yang harmonis dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
Komunikasi yang terbuka juga diharapkan mampu membuat berbagai persoalan lalu lintas dapat diketahui lebih cepat sehingga dapat menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan.
Kombes Pol. Reza Chairul Akbar Sidiq menekankan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan modal utama dalam menjalankan tugas kepolisian.
Karena itu, pelayanan yang profesional perlu berjalan bersama pendekatan yang humanis, sehingga masyarakat tidak hanya melihat kehadiran Polantas dari sisi penegakan aturan, tetapi juga sebagai mitra dalam menciptakan keselamatan di jalan raya.
Melalui program Ngobras, Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat berharap tercipta hubungan yang semakin harmonis antara Polantas dan masyarakat.
Dengan komunikasi yang terbuka, edukasi yang berkelanjutan, serta pelayanan yang profesional dan humanis, diharapkan budaya tertib berlalu lintas semakin mengakar.
Pada akhirnya, upaya tersebut diharapkan mampu mewujudkan jalan raya yang aman, nyaman, tertib, dan berkeselamatan bagi seluruh masyarakat Sumatera Barat.
(Rosdiana Br Purba)

















