InfoLangsa.Com – Aceh Tamiang
Banjir mungkin telah surut dari jalanan Desa Geudham, Kecamatan Manyak Payed, namun sisa-sisa trauma masih membekas nyata di ingatan anak-anak. Menanggapi kondisi tersebut, tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Samudra (Unsam) hadir membawa secercah harapan melalui program “Pendampingan Psikososial Berbasis Trauma Healing”. Bukan dengan alat berat, mereka hadir dengan metode bermain terapeutik untuk menyembuhkan luka yang tak terlihat.

Program yang dipimpin oleh Ummi Amanah, S.Pt., M.Pt., ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi kesehatan mental generasi muda pascabencana. Di Desa Geudham, banjir bukan sekadar genangan air, melainkan pemicu kecemasan. Banyak anak dilaporkan merasa was-was setiap kali mendung menggelayut, takut kehilangan tempat bermain, hingga mengalami penurunan kepercayaan diri akibat trauma lingkungan yang berulang.
Ketua Tim Pengabdian, Ummi Amanah, S.Pt., M.Pt., mengungkapkan bahwa selama ini upaya pemulihan pascabencana lebih sering difokuskan pada aspek fisik dan ekonomi, sementara kebutuhan psikologis sering kali terabaikan. Padahal, banyak anak di Desa Geudham menunjukkan gejala stres pascatrauma, seperti kecemasan berlebihan terhadap hujan, gangguan tidur, hingga perubahan perilaku menjadi lebih tertutup.
Melalui kegiatan bermain terapeutik, tim berusaha memberikan sarana alami bagi anak untuk mengekspresikan emosi yang terpendam dalam suasana yang aman dan menyenangkan.
“Kami ingin mengubah ketakutan itu menjadi kekuatan. Melalui kegiatan bermain yang terukur, kita membantu anak-anak memproses emosi negatif mereka dan mengubahnya menjadi resiliensi atau ketangguhan mental,” ujar Ummi Amanah. Menurutnya, pendekatan bermain adalah bahasa alami anak-anak untuk mengekspresikan apa yang tidak bisa mereka sampaikan lewat kata-kata.
Implementasi program ini menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari dosen hingga mahasiswa Program Studi Agribisnis. Anak-anak diajak mengikuti serangkaian aktivitas terstruktur, seperti permainan kelompok untuk membangun kebersamaan, menggambar ekspresi emosi, hingga sesi bercerita yang mengandung pesan harapan. Target utamanya adalah penguatan resiliensi, agar anak-anak memiliki kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi kembali setelah mengalami situasi darurat. Tujuannya satu: memastikan bahwa bencana tidak mencuri masa kecil mereka.
Dukungan Penuh dari Pemerintah Desa
Langkah nyata akademisi Universitas Samudra ini mendapat apresiasi hangat dari Pj Geuchik Desa Geudham, Said Muhazir. Ia menilai kehadiran tim pengabdian ini mengisi celah yang selama ini terabaikan dalam penanganan bencana di tingkat desa.
“Bantuan berupa sembako atau perbaikan fisik memang penting, tapi apa gunanya bangunan yang kokoh jika mental anak-anak kita rapuh?” ungkap Said Muhazir dengan nada bangga.
Said menambahkan bahwa dampak dari kegiatan ini mulai terasa di tengah masyarakat. Orang tua kini lebih memahami pentingnya dukungan psikologis, dan suasana desa menjadi lebih hidup dengan tawa anak-anak yang kembali ceria.
“Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak kami kembali bersemangat. Bu Ummi dan tim mahasiswa bukan hanya membawa program, tapi membawa kebahagiaan. Sebagai Pj Geuchik, saya sangat mendukung penuh dan berharap kolaborasi seperti ini menjadi agenda rutin, agar Desa Geudham tidak hanya tangguh secara fisik menghadapi banjir, tapi juga tangguh secara jiwa,” pungkasnya.
Program ini diharapkan menjadi pemantik bagi daerah lain di Aceh Tamiang bahwa pemulihan pascabencana haruslah holistik.
Universitas Samudra membuktikan bahwa melalui sinergi antara ilmu pengetahuan dan kepedulian sosial, senyum anak-anak yang sempat hilang akibat bencana dapat dikembalikan lagi.
Redaksi




















