Caption:
Ketua DPW BPI KPNPA RI Provinsi Aceh, DR (C) Chaidir Hasballah, SE., MH., CPM., CPArb.,
“Sikat dan jangan beri ampun kepada para bandar, pengedar, penyandang modal dan mereka-mereka yang diduga terlibat apapun perannya”.Jum’at (23/10)
InfoLangsa.com – Pidie
Operasi senyap yang digelar pada Kamis (22/10/2026) itu menjadi pengungkapan kasus narkoba TERBESAR sepanjang sejarah di Aceh – Indonesia dan menggemparkan publik.
Tim gabungan elite Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai berhasil menyita barang bukti fantastis yang diduga mampu memproduksi sabu 500 Kg hingga 1,1 Ton dalam sekali produksi. Sabu cair, kristal siap edar, dan berton-ton zat kimia prekursor berbahaya disita dari lokasi.
Informasi terbaru yang diterima InfoLangsa.com, total ada 11 orang yang ditangkap dalam kasus ini. Terdiri dari 9 Warga Negara Indonesia (WNI) dan 2 Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok/Taiwan.
Kabarnya, ruko yang menjadi pabrik 1,1 ton sabu di Kabupaten Pidie tersebut saat ini dijaga ketat aparat kepolisian bersenjata lengkap dan telah dipasangi police line.
BPI KPNPA RI Aceh: Apresiasi Tertinggi untuk Kapolri, Sikat Habis Jangan Beri Ampun!
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran RI (BPI KPNPA RI) Provinsi Aceh, DR (C) Chaidir Hasballah, SE., MH., CPM., CPArb., memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada aparat gabungan.
“Kami sangat berterima kasih kepada 3 instrumen negara: Polri, BNN dan Bea Cukai. Kinerja yang sangat bersinergi. Ini adalah pengungkapan kasus sindikat narkoba terbesar sepanjang sejarah di Aceh,” tegas Chaidir Hasballah kepada media ini.
Pihaknya memberikan dukungan penuh kepada Kapolri dan jajarannya untuk mengusut tuntas semua pihak yang terlibat, tanpa pandang bulu.
“Sikat dan jangan beri ampun kepada para bandar, pengedar, penyandang modal dan mereka-mereka yang diduga terlibat apapun perannya. Putuskan mata rantai dan berikan hukuman mati pada pelaku karena mereka perusak generasi bangsa dengan narkoba,” tegasnya keras.
Chaidir juga secara khusus mengapresiasi kepemimpinan Kapolri baru, Jenderal Pol. Dr (HC) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si.,* beserta jajaran instrumen lainnya yang dinilai sangat solid dan bersinergi dalam memberantas narkoba.
> “Terima kasih kami sebagai warga Aceh kepada Kapolri, BNN, Bea Cukai beserta jajarannya yang tergabung dalam tim. Kami berharap Polri, TNI, BNN, Bea Cukai dan institusi lainnya ambil peran untuk menumpas habis peredaran narkoba agar Indonesia benar-benar bebas dari narkoba,” tutupnya.
Fakta Mencengangkan: Pabrik di Belakang Masjid, 2 WNA Jadi Koki Jaringan Golden Peacock
Dalam penggerebekan tersebut, 2 WNA asal Tiongkok/Taiwan diduga kuat berperan sebagai koki atau peracik sabu* dan pengendali jalur distribusi jaringan internasional Golden Peacock.
Yang membuat warga merinding, pabrik maut ini berada di pemukiman padat penduduk, dekat sekolah dan masjid di Gampong Ulee Tutue, Beureueh Dua, Mutiara Timur, Sigli. Aktivitas ruko yang tertutup rapat membuat warga tidak menaruh curiga sama sekali.
Kini, pertanyaan besar yang viral di tengah masyarakat: Siapa pemodal di baliknya?
Sosok misterius yang disebut-sebut warga dengan inisial “ABANGDAA” diduga menjadi aktor kunci yang menyediakan uang sewa ruko, peralatan laboratorium canggih, bahan baku, hingga mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri.
Kapolri Dijadwalkan Turun Langsung Sore Ini
Kabar terbaru, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dijadwalkan akan hadir langsung dalam pengungkapan kasus ini di Pidie dan akan menyampaikan keterangan lengkap dalam konferensi pers sore ini terkait kronologi, modus operandi, dan total nilai barang bukti yang ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.
Bagaimana menurut Anda? Setujukah hukuman mati bagi pemodal pabrik sabu 1,1 ton perusak generasi bangsa ini? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!*(*)*


















