InfoLangsa.Com – BIREUEN
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bireuen, Edi Saputra, S.H., M.M, yang akrab disapa Edi Obama, didampingi sang istri, Ns. Sri Selisna Devi, S.Kep., yang juga merupakan pengurus PMI Aceh, melakukan silaturahmi dengan Ketua Pembina Kampus UNIKI Desa Blang Bladeh sekaligus Anggota DPRA Fraksi PPP, Dr. H. Amiruddin Idris, S.E., M.Si., di salah satu kafe di Kota Bireuen, beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh kehangatan, kekeluargaan, dan kebersamaan. Momen itu diisi dengan makan dan minum bersama sebagai bentuk mempererat hubungan persaudaraan. Tidak ada pembahasan yang bersifat khusus maupun rahasia, baik menyangkut kepentingan pribadi, usaha, maupun urusan politik.
Silaturahmi ini menjadi cerminan bahwa hubungan baik antarsesama harus senantiasa dijaga tanpa dibatasi oleh jabatan, profesi, ataupun latar belakang. Sebab, nilai persaudaraan yang tulus merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan saling menghormati.
“Silaturahmi bukan sekadar mempertemukan tangan, tetapi juga menyatukan hati. Sebab, hubungan yang dirawat dengan keikhlasan akan melahirkan keberkahan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kebaikan bagi semua.”
Dalam ajaran Islam, menjaga tali silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia senantiasa menyambung tali silaturahmi. Hal tersebut menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi jalan hadirnya keberkahan dalam kehidupan.
Menjaga silaturahmi juga merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaknya senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama. Dengan mempererat kasih sayang dan persaudaraan, seorang hamba akan semakin dekat dengan rahmat dan cinta Allah SWT.
Selain menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, silaturahmi juga menjadi salah satu amalan yang dapat mengantarkan seseorang kepada surga. Sebaliknya, Islam memberikan peringatan keras kepada siapa pun yang memutus tali persaudaraan, karena perbuatan tersebut termasuk dosa besar yang harus dihindari.
Silaturahmi bukan hanya tradisi, melainkan investasi nilai yang akan terus memberi manfaat sepanjang kehidupan. Ketika hati dipersatukan dalam kebersamaan, maka lahirlah kepercayaan; ketika persaudaraan dijaga dengan keikhlasan, maka keberkahan akan menyertai setiap langkah.
Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, “Persaudaraan yang tulus tidak diukur dari seberapa sering bertemu, tetapi dari seberapa kuat menjaga rasa saling menghormati dan mendoakan dalam setiap keadaan.” Oleh karena itu, kapan pun dan di mana pun, semangat kebersamaan serta nilai-nilai silaturahmi hendaknya terus dipelihara sebagai warisan moral yang memperkokoh persatuan dan membangun masa depan yang lebih baik.
HENDRI

















