Warisan Tradisi dan Tuntutan Modernitas

- Penulis

Sabtu, 1 November 2025 - 15:28

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini
Oleh. Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, S.Pd.I., M.A,Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Aceh sering disebut sebagai “Serambi Mekkah” karena sejarah panjangnya sebagai pusat penyebaran Islam di Nusantara. Daerah ini telah menjadi pusat pendidikan dan keagamaan Islam sejak masa Kesultanan Aceh. Institusi Pendidikan seperti Dayah atau Pesantren berkembang pesat, menghasilkan banyak Ulama terkemuka di dunia Melayu. Namun, di tengah kebanggaan Sejarah dan gambaran Religius ini, dunia Pendidikan Islam di Aceh saat ini menunjukkan fenomena yang dapat disebut sebagai Anomali, adanya ketidaksesuaian antara prinsip-prinsip Islam yang luhur dengan praktik pendidikan yang seringkali stagnan dan tidak berubah-ubah.

Kurikulum, Orientasi pembelajaran, dan manajemen kelembagaan adalah beberapa area di mana Anomali ini tampak nyata. Di satu sisi, Aceh dikenal sebagai tempat di mana nilai-nilai Islam digunakan untuk membangun kehidupan Sosial dan Moral. Sebaliknya, banyak Institusi Pendidikan Islam masih mengandalkan praktik lama, pendekatan Konservatif, dan kurangnya Inovasi. Akibatnya, Pendidikan Islam, yang seharusnya menjadi kekuatan Transformasi, masih lamban dalam menghadapi Modernisasi, Globalisasi, dan Revolusi Digital. Ironisnya, Lembaga Pendidikan Islam Agama yang menekankan pentingnya ilmu dan perubahan sering kali tertinggal dari kemajuan ilmiah dan Teknologi.

Lembaga Dayah, yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh, merupakan salah satu anomali yang paling menonjol. Selama berabad-abad, Dayah bukan hanya tempat untuk belajar agama; itu juga telah menjadi tempat untuk membangun Moralitas, Karakter, dan kepemimpinan Sosial. Alumni Dayah telah memainkan peran penting dalam perjuangan melawan Kolonialisme dan pembangunan masyarakat dalam sejarahnya. Namun, hingga saat ini, sebagian Dayah masih mengikuti Metode pengajaran Tradisional yang sepenuhnya berpusat pada penguasaan Kitab Kuning sulit memasukkan ilmu Pengetahuan Umum dan Teknologi Modern. Generasi muda saat ini membutuhkan berpikir terbuka, beradaptasi dengan teknologi, dan mampu bersaing di seluruh Dunia.

Di Aceh, Sebagian Dayah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam juga menghadapi masalah serupa. Sekolah-sekolah ini seharusnya menghubungkan Agama dan Ilmu pengetahuan Modern. Namun, dalam kenyataannya, banyak dari mereka tetap menekankan pelajaran Normatif yang menekankan aspek Ritual dan Moral, tanpa mengajarkan siswa berpikir Kritis, memahami Sains, dan keterampilan abad ke-21. Kurikulum seringkali kaku dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat Modern. Di sisi lain, banyak Pendidik yang belum terbiasa menggunakan Metode Pembelajaran Inovatif dan Teknologi Pembelajaran Digital. Perguruan Tinggi Islam juga menghadapi masalah serupa: mereka ingin menghasilkan sarjana yang berpengetahuan dan berakhlak, tetapi banyak kampus kesulitan berinovasi karena sistem birokrasi yang kaku dan kurangnya riset berbasis masyarakat.

Penerapan Otonomi Khusus dan Syariat Islam di Aceh, ada peluang besar untuk membangun sistem Pendidikan Islam yang berkualitas Tinggi dan berkarakter. Namun, peluang itu belum dimanfaatkan sepenuhnya. Banyak kebijakan Pendidikan masih berfokus pada hal-hal simbolik, seperti penegasan aturan Ibadah, pakaian seragam Syar’i, atau pelajaran Fikih. Namun, mereka tidak melakukan perubahan Signifikan dalam Kualitas Pendidikan, kemampuan Guru, atau Struktur Kurikulum. Di sinilah anomali terjadi, meskipun Aceh telah menerapkan Syariat Islam secara resmi, namun kondisi tersebut belum mampu menjadikannya sebagai paradigma perubahan dalam bidang Pendidikan. Sistem Pendidikan yang menanamkan Keadilan, Kejujuran, Integritas, dan semangat penelitian harus menghidupkan nilai-nilai Islam lebih dari sekedar simbol.

Aceh perlu melakukan Reformasi Pendidikan Islam yang menyeluruh dan berkelanjutan untuk menghilangkan Anomali tersebut. Pertama dan terpenting, Pendidikan Islam harus mengutamakan Integrasi ilmu, menghapus perbedaan antara Ilmu Agama dan ilmu dunia. Menurut Iman Tauhid, segala jenis Ilmu, termasuk Ilmu Sosial, Teknologi, dan Sains, pada akhirnya merupakan bagian dari Manifestasi Kebesaran Allah. Kedua, penggunaan Teknologi Digital dan pendekatan pembelajaran Aktif, berbasis Proyek, adalah perluasan pendidikan. Sangat penting bagi Guru dan Teungku,Ustadz untuk dilatih agar mereka dapat memberikan pembelajaran yang Inovatif, Interaktif, dan relevan dengan tuntutan abad ke-21. Ketiga, Kolaborasi Lintas Lembaga antara Pemerintah, Dayah, Madrasah, Perguruan Tinggi, dan sektor Swasta diperlukan untuk mendorong Penelitian, Pertukaran Ilmu, dan program Inovatif yang mendukung Transformasi Sistem Pendidikan Islam.

Dipublikasikan oleh Zainal Jimbrown (InfoLangsa.Com)

Berita Terkait

BUMDes Permata Majapahit Tak Transparan, Warga Tanjangrono Tuntut Kejelasan
DPC PKB Kota Langsa Gelar Silaturahmi dan Konsolidasi, Fokus Rekrutmen Kader dan Pemenangan 2029
Mahasiswa KKN-PPM Unimal Kelompok 30 Gotong Royong Bersihkan Halaman Kantor Geuchik Seuneubok Drien
POLRES ACEH TAMIANG RAIH PENGHARGAAN KAPOLRI ATAS CAPAIAN IKPA SEMPURNA TAHUN ANGGARAN 2025
Camat Sekerak Gelar Temu Ramah Bersama Kapolsek Karang Baru yang Baru
7 Gugus Jenjang MI Tampil Liga Sepak Bola Mini Soccer ke-3.
Wakil Ketua DPRD Kota Medan H. Zulkarnain, S.K.M. Tampung Keluhan Konstituennya, Infra Struktur hingga Bantuan Sosial Jadi Sorotan
DPP KAMPUD: Penetapan Tersangka Eks Jampidsus FA Tanpa Rompi Tahanan dan Borgol, Ada Perlakuan Khusus
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:09

Peringatan Hari Damai Aceh Ke-21, SMAN 1 Samalanga Gelar Zikir Dan Tausiah.

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:58

Semarak HUT RI ke-81, RSUD Drs. H. Amri Tambunan Gelar Lomba dan Bagikan 100 Bendera kepada Warga

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:55

Dahnil Ginting Apresiasi Pelayanan RSUD Amri Tambunan, Dorong Akses Kesehatan untuk Warga Kurang Mampu

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:50

Festival Karaoke Pop Aero Brew 2026 Pecah! 15 Finalis Tampil Memukau, Dira Samosir Raih Juara 1

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:39

Wali Kota Langsa Jeffry Sentana Lepas Kontingen O2SN Tingkat Nasional Tahun 2026 ke Jawa Barat

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:30

KP3 ABAS Tegas Pro-NKRI, Desak Prabowo Buka Jalan Provinsi Baru

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:01

Jeffry Sentana Pimpin Kirab Bendera Raksasa, Ajak Warga Isi Kemerdekaan dengan Karya Nyata

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:57

Apel Gabungan TNI-POLRI dan Patroli Dalam Rangka Cipta Kondisi Kamtibmas di Polres Aceh Tamiang

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x