Oleh : Darwis Akbar
(Wartawan dan Pemerhati Sosial)
InfoLangsa.Com – Jakarta,
Hari ini masyarakat Indonesia akrab dengan berbagai akronim atau singkatan kata seperti “japri” (jalur pribadi), “modus” (modal dusta), hingga “mager” (malas gerak). Fenomena singkat-menyingkat kata ini ternyata sudah berlangsung sejak lama dan terus berkembang hingga sekarang.
Dalam percakapan sehari-hari, akronim menjadi bagian dari gaya bahasa masyarakat. Selain memudahkan komunikasi, singkatan juga dianggap lebih praktis dan cepat digunakan, terutama di era media sosial dan percakapan digital.
Peneliti bahasa Indonesia, Soenjono Dardjowidjojo, dalam paper berjudul Acronymic Patterns in Indonesian, menyebut kebiasaan membuat akronim sebenarnya telah ada sejak masa lampau. Namun, penggunaannya mulai populer secara luas pada era 1960-an.
Menurut penelitiannya, akronim bahkan menjadi materi wajib di akademi militer. Para calon prajurit saat itu diwajibkan mengikuti kursus khusus mengenai pembentukan singkatan dan akronim.
Popularitas akronim juga turut dipengaruhi oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno. Salah satu istilah yang terkenal adalah “berdikari”, singkatan dari “berdiri di kaki sendiri”, yang kerap digunakan Sukarno dalam pidato-pidatonya.
Fenomena ini semakin berkembang pasca peristiwa gagal kudeta tahun 1965. Sejak saat itu, berbagai singkatan dan akronim baru terus bermunculan dan menjadi bagian dari budaya bahasa masyarakat Indonesia.
Hingga kini, akronim terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Tidak hanya digunakan dalam dunia politik dan militer, singkatan juga merambah bahasa gaul, budaya populer, hingga nama makanan seperti “batagor” yang berasal dari “bakso tahu goreng”.
Disiarkan Oleh :
#Redaksi InfoLangsa.Com

















