SATU JAM BERSAMA HASANUDDIN TISI DG LEWA: HIDUP INI SINGKAT, ISI PERJUANGAN DENGAN KEBAIKAN..! 

- Penulis

Minggu, 19 April 2026 - 13:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Yahdi Basma

(Sastrawan Politik Palu)

Jelang siang itu mengalir pelan. Ahad 19 April 2026. Di sebuah patio (rear terrace) area belakang rumah mewah di kawasan Bekasi Barat. Percakapan berlangsung tanpa sekat, tanpa formalitas berlebih. Di hadapan saya, duduk seorang figur yang dalam diamnya menyimpan keteguhan: *Hasanuddin Tisi Dg Lewa*— akrab disapa Tetta Lewa, Pengusaha sukses asal Sabintang, Takalar, Sulawesi Selatan, yang kini menetap di Perumahan Pondok Timur Mas, Bekasi Barat.

Ia bukan sekadar pengusaha. Dalam tubuhnya mengalir identitas kultural yang kuat sebagai Karaeng Mallantikang Maloloa, sekaligus tanggung jawab sebagai Pimpinan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Teranyar, ia didapuk sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Nasional (BPN) KKTP (Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku), organisasi paguyuban tanah kelahiran nya.

Sosoknya juga terhubung dengan jejaring nasional dan internasional, bukan sekadar karena saudara ipar Oesman Sapta Odang. Namun, karena cara berpikirnya yang jernih dan membumi.

Satu jam bersama beliau terasa seperti membaca ulang makna kehidupan, dari sudut pandang seorang yang telah melewati banyak fase.

“Hidup ini singkat,” ujarnya pelan namun tegas, “jadi isi dengan perjuangan yang menghadirkan kebaikan.”

Kalimat itu bukan retorika. Ia lahir dari pengalaman panjang—dari kampung halaman di Takalar hingga perjalanan bisnis di tanah rantau. Dalam narasinya, Hasanuddin Tisi menempatkan Indonesia sebagai sebuah proyek sejarah besar yang tidak lahir secara kebetulan.

Ia menekankan bahwa negeri ini berdiri di atas pengorbanan para founding fathers—darah dan keringat yang tidak boleh direduksi menjadi sekadar catatan sejarah. Baginya, itu adalah fondasi moral.

“Basis utama lahir dan tumbuhnya negeri ini adalah perjuangan luhur. Itu harus kita jaga bersama,” katanya. “Perbedaan itu pasti ada, tapi jangan dibiarkan membeku. Harus dicairkan terus, supaya tidak jadi penghambat dan penyumbat gerak pembangunan bangsa.”

Di titik ini, terlihat jelas orientasi pikirannya: integratif, bukan fragmentatif. Ia memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai energi yang harus dikelola.

Namun, percakapan juga menyentuh nada keprihatinan.

Dengan raut wajah yang sedikit mengeras, ia mengulas kondisi bangsa hari ini—di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks, kepercayaan publik yang perlahan terkikis, serta maraknya fenomena koruptif berbagai bidang di saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi berbagai sisi.

“Jujur, saya prihatin,” ungkapnya. “Di saat rakyat sedang sulit, kita justru sering melihat praktik-praktik yang tidak mencerminkan keberpihakan kepada kepentingan publik.”

Bagi Hasanuddin Tisi, krisis terbesar bukan semata ekonomi, tetapi krisis kepercayaan (trust deficit). Ketika publik mulai kehilangan keyakinan terhadap Otoritas institusi, maka stabilitas sosial dan arah pembangunan menjadi rentan.

Di sinilah, menurutnya, peran tokoh masyarakat, pengusaha, dan organisasi seperti KKTP menjadi penting—bukan sekadar sebagai wadah silaturahmi, tetapi sebagai kekuatan sosial yang menjaga nilai, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan kontribusi nyata.

Menariknya, di tengah keseriusan itu, terselip sisi lain dari dirinya: kecintaan pada dunia otomotif, khususnya Jeep. Hobi yang ia tekuni sejak muda ini menjadi simbol karakter—tangguh, adaptif, dan siap menghadapi medan berat.

Barangkali, filosofi Jeep itu pula yang ia bawa dalam hidup: bahwa jalan tidak selalu mulus, tetapi dengan ketahanan dan arah yang jelas, setiap rintangan bisa dilalui.

Menutup perbincangan, ia kembali pada gagasan awal—tentang waktu yang singkat dan makna perjuangan.

“Yang kita kejar bukan sekadar berhasil,” katanya, “tapi bagaimana keberhasilan itu punya arti bagi orang lain.”

Satu jam itu terasa padat. Bukan karena banyaknya kata, tetapi karena kedalaman makna. Dari Hasanuddin Tisi Dg Lewa, kita belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita ada, melainkan tentang apa yang kita tinggalkan—jejak kebaikan atau sekadar jejak biasa, seperti secangkir kopi hitam yang dibaluri gula aren cair, nikmat dan berasa.

Bekasi, 19 April 2026.

Dipublikasikan oleh :

Redaksi InfoLangsa.Com 

Berita Terkait

Jacob Ereste : Safari GMRI ke Semarang. Demak, Kadilangu, Kudus. Purwodadi, Solo dan Semarang
Jeffry Sentana Kukuhkan 22 Putra-Putri Terbaik Paskibraka Kota Langsa Tahun 2026
Momentum Baru Kewarganegaraan Indonesia: Jangan Lagi Abaikan Anak Berkewarganegaraan Ganda Terbatas (ABG)
Peringatan Hari Damai Aceh Ke-21, SMAN 1 Samalanga Gelar Zikir Dan Tausiah.
Semarak HUT RI ke-81, RSUD Drs. H. Amri Tambunan Gelar Lomba dan Bagikan 100 Bendera kepada Warga
Dahnil Ginting Apresiasi Pelayanan RSUD Amri Tambunan, Dorong Akses Kesehatan untuk Warga Kurang Mampu
Festival Karaoke Pop Aero Brew 2026 Pecah! 15 Finalis Tampil Memukau, Dira Samosir Raih Juara 1
Wali Kota Langsa Jeffry Sentana Lepas Kontingen O2SN Tingkat Nasional Tahun 2026 ke Jawa Barat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 23:18

Jacob Ereste : Safari GMRI ke Semarang. Demak, Kadilangu, Kudus. Purwodadi, Solo dan Semarang

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:29

Jeffry Sentana Kukuhkan 22 Putra-Putri Terbaik Paskibraka Kota Langsa Tahun 2026

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 18:50

Momentum Baru Kewarganegaraan Indonesia: Jangan Lagi Abaikan Anak Berkewarganegaraan Ganda Terbatas (ABG)

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:09

Peringatan Hari Damai Aceh Ke-21, SMAN 1 Samalanga Gelar Zikir Dan Tausiah.

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:58

Semarak HUT RI ke-81, RSUD Drs. H. Amri Tambunan Gelar Lomba dan Bagikan 100 Bendera kepada Warga

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:50

Festival Karaoke Pop Aero Brew 2026 Pecah! 15 Finalis Tampil Memukau, Dira Samosir Raih Juara 1

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:39

Wali Kota Langsa Jeffry Sentana Lepas Kontingen O2SN Tingkat Nasional Tahun 2026 ke Jawa Barat

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:35

Pentas Seni ‘Merajoet Senja’ Untuk Merawat Semangat Agar Tidak Menyerah

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x