Caption : ilustrasi
Oleh : Chaidir Toweren
InfoLangsa.com
Kebenaran tidak pernah memohon untuk disukai. Ia tidak dibentuk dari kebutuhan untuk menyenangkan hati manusia. Ia hadir sebagaimana adanya: telanjang, tajam, dan kadang menyakitkan. Ketika kita memilih untuk mengatakannya, kita sesungguhnya tengah meletakkan cermin di tengah-tengah kerumunan—dan tidak semua orang siap bercermin.
Sebab, ketika cermin kebenaran menampakkan luka, borok, dan cacat yang selama ini disembunyikan, hanya dua kemungkinan yang terjadi. Yang bijak akan terdiam. Ia tidak merasa diserang, ia merasa tersentuh. Ia tahu bahwa kebenaran bukan untuk mempermalukan, tapi untuk membangunkan. Ia merenung, dan dalam diamnya ada kesediaan untuk berubah.
Tapi yang bodoh, mereka akan marah. Tersinggung. Merasa disudutkan, padahal hanya sedang diperlihatkan siapa diri mereka yang sesungguhnya. Reaksinya bukan karena kebenaran itu salah, tapi karena kebenaran itu terlalu benar. Terlalu terang bagi mata yang terbiasa di ruang gelap. Terlalu jujur bagi hati yang nyaman hidup dalam dusta.
Kita seperti sedang meyakinkan seekor lalat, bahwa bunga lebih indah daripada sampah. Bahwa wangi mawar lebih menenangkan daripada bau busuk got. Tapi lalat tak mengenal keindahan bunga. Ia tidak tertarik pada keharuman. Ia hidup dari sampah, berkembang di sana, dan menganggapnya rumah.
Mengapa lalat menolak bunga? Bukan karena bunga tidak indah, tapi karena ia telah jatuh cinta pada kebusukan. Dan begitulah manusia—yang telah terlalu lama hidup dari kebohongan, akan menganggap kebenaran sebagai musuh. Mereka akan menertawakannya, meremehkannya, bahkan memusnahkannya jika bisa.
Kita hidup di zaman di mana yang dusta dielu-elukan karena manis di telinga, sementara yang benar dicaci karena pahit di hati. Tapi kebenaran bukanlah pemanis, ia adalah obat. Dan seperti semua obat: ia pahit, tapi menyembuhkan.
Maka ketika engkau memilih berkata benar, jangan berharap disambut tepuk tangan. Bersiaplah dicibir, difitnah, bahkan dijauhi. Tapi itulah harga dari berdiri di sisi terang. Dan terang, meski kecil, tetaplah lebih kuat dari gelap yang paling pekat.
Tetaplah berbicara, walau hanya sedikit yang mendengar. Tetaplah berdiri, meski sendiri. Karena sejatinya, kebenaran bukan untuk menyenangkan semua orang, tetapi untuk menggugah siapa yang masih mau mendengarkan suara nuraninya.
Dan ingatlah: kita tidak berbicara untuk lalat. Kita berbicara untuk mereka yang masih mencari bunga, meski tertutup oleh tumpukan sampah.



















