InfoLangsa.Com
Lahir di Ciheulang, Bandung Selatan pada 25 Februari 1958, Haedar Nashir tumbuh dalam lingkungan yang sangat menghargai disiplin ilmu. Awal kariernya sebagai seorang intelektual dimulai dari pondok pesantren sebelum akhirnya ia hijrah ke Yogyakarta. Kecemerlangan akademiknya terbukti saat ia menempuh studi Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan berhasil lulus dengan predikat cumlaude baik pada jenjang Master maupun Doktor. Ketajaman analisis sosialnya inilah yang kemudian mengantarkan beliau masuk dalam daftar Top 100 Ilmuwan Sosial di Indonesia versi Alper-Doger (AD) Scientific Index 2022, sebuah pengakuan internasional atas dedikasi beliau di dunia sains.
Langkah hidupnya menemui titik balik yang luar biasa ketika ia dipercaya memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 2015. Dengan latar belakang sebagai sosiolog ulung, ia membawa gaya kepemimpinan yang sangat inklusif dan berbasis riset. Di bawah arahannya, Muhammadiyah melakukan langkah besar melalui program internasionalisasi, termasuk mendirikan universitas di Malaysia dan sekolah di Australia. Baginya, dakwah tidak boleh hanya mengandalkan retorika, melainkan harus diwujudkan melalui institusi pendidikan yang unggul dan diakui secara global.
Keteguhan prinsip beliau sebagai ilmuwan sekaligus pemimpin umat diuji saat pandemi Covid-19 melanda. Melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), ia menggerakkan seluruh aset organisasi secara sistematis untuk membantu penanganan kesehatan nasional. Dedikasi kemanusiaan yang inklusif ini membuahkan berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Zayed Award for Human Fraternity 2024. Pengakuan ini, ditambah dengan posisinya yang konsisten dalam daftar 500 Muslim Berpengaruh Dunia, mempertegas bahwa pengaruh beliau telah melampaui batas-batas nasional.
Di luar kesibukan memimpin organisasi besar, Prof. Haedar Nashir tetaplah seorang pendidik sejati. Sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia terus memproduksi pemikiran-pemikiran segar melalui tulisan-tulisannya yang moderat. Kehidupan pribadinya bersama sang istri, Siti Noordjannah Djohantini, menjadi potret ideal keluarga intelektual yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan bangsa dan kemanusiaan.
Kisah Haedar Nashir memberikan pelajaran berharga bahwa kekuasaan dalam organisasi akan jauh lebih bermakna jika ditopang oleh kedalaman ilmu pengetahuan. Beliau membuktikan bahwa seorang santri dari desa terpencil bisa menjadi ilmuwan sosial papan atas dunia yang mampu membawa organisasinya bertransformasi menjadi kekuatan kemanusiaan global yang disegani.
Sumber: Wikipedia – “Haedar Nashir”
#HaedarNashir #Muhammadiyah #IlmuwanSosial #Top100Scientist #SosiologIndonesia #ZayedAward #MuhammadiyahBerkemajuan #ProfilTokoh #InspirasiIslam #TokohDunia
(Megawati)




















