Infolangsa.com — Ada ungkapan lama yang sering terdengar, laki-laki lemah pada apa yang dilihat, sementara perempuan lemah pada apa yang didengar. Ungkapan ini mungkin terdengar sederhana, bahkan klise. Namun jika kita mau jujur, ada realitas sosial yang membuatnya tetap relevan hingga hari ini.
Coba perhatikan bagaimana industri media bekerja. Majalah pria dewasa, sejak dulu hingga kini, cenderung dipenuhi visual. perempuan dengan pakaian minim, pose yang menggoda, dan estetika yang memang dirancang untuk memikat mata. Seolah-olah, visual adalah pintu utama menuju perhatian laki-laki.
Sebaliknya, majalah perempuan dewasa justru berbicara dalam bahasa yang berbeda. Isinya lebih banyak tentang resep, karier, hubungan, hingga horoskop. Ada narasi, ada kata-kata, ada makna yang “didengar” baik secara literal maupun emosional. Perempuan tidak sekadar melihat, tetapi meresapi.
Di sinilah letak perbedaan yang menarik: laki-laki seringkali tersentuh oleh apa yang tampak, sementara perempuan lebih tergerak oleh apa yang disampaikan.
Bagi laki-laki, gambar bisa cukup. Bagi perempuan, kata-kata bisa segalanya.
Namun, ini bukan sekadar soal biologis atau naluri semata. Ini juga soal bagaimana masyarakat membentuk keduanya. Laki-laki sejak kecil sering didorong untuk “melihat dan menilai”, sementara perempuan diajarkan untuk “mendengar dan merasakan”. Maka, ketika dewasa, pola itu menjadi kebiasaan yang terlihat alami.
Itulah sebabnya, pujian sederhana bisa memiliki kekuatan luar biasa bagi seorang perempuan. Didengar, dipahami, dan dihargai melalui kata-kata sering kali lebih berarti daripada sekadar penampilan. Sebaliknya, bagi laki-laki, daya tarik visual sering menjadi pintu pertama sebelum hal lain dipertimbangkan.
Tetapi kita juga perlu berhati-hati. Menggeneralisasi bukan berarti membenarkan. Tidak semua laki-laki hanya melihat, dan tidak semua perempuan hanya mendengar. Manusia jauh lebih kompleks dari sekadar dua kategori itu.
Yang menarik justru adalah bagaimana kita bisa memahami perbedaan ini untuk membangun hubungan yang lebih baik. Laki-laki bisa belajar bahwa perempuan membutuhkan perhatian dalam bentuk komunikasi yang tulus. Perempuan pun bisa memahami bahwa laki-laki sering kali merespons hal-hal visual sebagai bagian dari naluri yang sudah terbentuk.
Pada akhirnya, bukan soal siapa yang lebih lemah. Tapi soal bagaimana setiap manusia memiliki “pintu masuk” yang berbeda menuju hati dan pikirannya.
Dan mungkin, kunci hubungan yang sehat adalah sederhana ”
melihat dengan hati, dan mendengar dengan empati.”
Penulis : Chaidir Toweren

















